Tata Cara Menguburkan Jenazah dalam Islam

Tata Cara Ibadah (Santri Milenial). Tata Cara Menguburkan Jenazah dalam Islam

ويدفن في لحد مستقبل القبلة ويسل من قبل رأسه برفق ويقول الذي يلحده: بسم الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم ويضجع في القبر بعد أن يعمق قامة وبسطة ويسطح القبر ولا يبنى عليه ولا يجصص.

Jenazah orang yang meninggal dimakamkan di dalam liang lahat dengan menghadap kiblat. Liang lahat adalah bagian yang digali di sisi liang kubur bagian bawah dari arah kiblat kira-kira seukuran yang bisa memuat dan menutupi jenazah. Mengubur di dalam liang lahat lebih utama daripada mengubur di dalam liang kuburan yang digali pada bagian tengah liang kubur yang berbentuk seperti selokan air, dan dibangun kedua sisinya, serta jenazah diletakkan di antara kedua sisi tersebut dan di tutup dengan batu bata mentah atau semisalnya.

Keutamaan mengubur jenazah di dalam liang lahat tersebut apabila keadaan tanahnya keras. Namun apabila keadaan tanahnya lunak, maka yang lebih utama adalah mengubur di dalam liang kuburan yang digali pada bagian tengah. Sebelum dimasukkan, jenazah diletakkan di sisi belakang atau bagian kaki kubur. Yaitu, jenazah diturunkan ke liang kubur dimulai dari arah kepalanya, maksudnya dimasukkan dengan cara yang halus tidak kasar.

Baca Juga: Tata Cara Shalat Berjama’ah

Orang yang memasukkan jenazah ke liang lahat, disunnahkan mengucapkan :

” ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﻣِﻠَّﺔِ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ “

Maknanya : “Dengan menyebut Nama Allah. Dan atas agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Dan jenazah diletakkan di dalam kubur dengan posisi tidur miring setelah kubur tersebut digali sedalam ukuran orang berdiri dan melambaikan tangan. Posisi tidur miring tersebut dengan menghadap kiblat dan bertumpuh pada lambung jenazah sebelah kanan.

Seandainya jenazah dikubur dengan posisi membelakangi kiblat atau terlentang, maka wajib digali lagi dan dihadapkan ke arah kiblat, selama jenazah tersebut belum berubah. Bentuk kubur tersebut diratakan, dan tidak dibentuk seperti punuk unta, serta tidak dibangun dan dilepa dengan gamping dalam artian makruh hukumnya melepa (menembok) kuburan dengan gamping.

Oleh : Abu ‘Abdillah Ibnu Zubaidy Al-Bathy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *