Tata Cara Shalat dan Khutbah Jum’at

Tata Cara Ibadah (Santri Milenial). Tata Cara Shalat dan Khutbah Jum’at

وفرائضها ثلاثة : خطبتان يقوم فيهما ويجلس بينهما وأن تصلى ركعتين في جماعة. وهيئاتها أربع خصال : الغسل وتنظيف الجسد ولبس الثياب البيض وأخذ الظفر والطيب. ويستحب : الإنصات في وقت الخطبة ومن دخل والإمام يخطب صلى ركعتين خفيفتين ثم يجلس.

Fardhu-Fardhu Sholat Jum’at

Fardlu-fardlunya (sebagian ulama’ mengatakan syarat-syarat) sholat Jum’at ada tiga yaitu :

(1) Khutbah Pertama

(2) Khutbah Kedua

Kedua khutbah tersebut dilakukan seorang khatib dengan berdiri dan duduk di antara keduanya. Imam Al-Mutawalli berkata : “Yaitu dengan ukuran thuma’ninah di antara dua sujud.”

Seandainya khatib tidak mampu berdiri dan ia melakukan khutbah dengan duduk atau tidur miring, maka hukumnya sah dan diperkenankan mengikutinya walaupun kita tidak tahu dengan keadaan sang khatib yang sebenarnya. Ketika seorang khatib melaksanakan khutbah dengan cara duduk, maka ia memisah antara kedua khutbah dengan diam sejenak tidak dengan tidur miring.

Baca juga: Tata Cara Shalat Gerhana Matahari dan Bulan

(3) Dua rekaat sholat Jum’at yang dilakukan oleh sekelompok orang yang bisa menjadikan sahnya sholat Jum’at.

Sholat ini disyaratkan terlaksana setelah dua khutbah, berbeda dengan sholat hari raya, karena sholat hari raya dilaksanakan sebelum dua khutbah.

Rukun-Rukun Khutbah

Rukun-rukun khutbah ada lima yaitu :

(1) Memuji kepada Allah ta’ala.

(2) Membaca sholawat untuk Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan lafadzh keduanya telah tertentu seperti

الحمد لله dan اللهم صل على محمد

(3) Berwasiat dengan ketaqwaan. Dan lafadzhnya tidak tertentu menurut pendapat yang lebih kuat.

(4) Membaca satu ayat Al-Quran yang sempurna serta memahamkan di salah satu dua khutbah.

(5) Berdo’a untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan di dalam khotbah yang kedua.

Syarat-Syarat Khutbah

Seorang khatib disyaratkan harus menyampaikan khutbah yang bisa didengar rukun-rukunnya oleh empat puluh jama’ah yang bisa mengesahkan sholat Jum’at. Dan disyaratkan harus muwalah (berkesinambungan) di antara kalimat-kalimat khutbah dan di antara dua khutbah.

Dan disyaratkan duduk di antara dua khutbah, paling sedikit adalah kadar ukuran thuma’ninah dan paling sempurna adalah kadar ukuran surat Al-lkhlas. Dan disyaratkan juga adanya rukun-rukun dua khutbah menggunakan bahasa arab. Seandainya khatib memisah antara kalimat-kalimat khutbah walaupun sebab udzur, maka khutbah yang dilakukan menjadi batal. Di dalam pelaksanaan kedua khutbah disyaratkan harus menutup aurat, suci dari hadats dan najis pada pakaian, badan dan tempat.

Baca juga: Tata Cara Shalat Berjama’ah

Kesunahan-Kesunahan Sholat Jum’at

Sunnah-sunnah haiat sholat Jum’at ada empat perkara yaitu :

(1) Mandi bagi orang yang hendak menghadiri sholat Jum’at, baik laki-laki atau perempuan, merdeka atau budak, orang muqim atau musafir.

Waktu pelaksanaan mandi adalah mulai dari terbitnya fajar kedua (fajar shadiq) sampai naiknya imam ke atas mimbar. Dan melakukan mandi saat mendekati keberangkatan itu lebih afdhal (utama). Jika tidak mampu untuk mandi, maka melakukan tayammum dengan niat mandi untuk sholat Jum’at.

(2) Membersihkan badan dengan menghilangkan bau tak sedap dari badan seperti bau badan. Maka disunnahkan menggunakan barang-barang yang bisa menghilangkan bau tersebut.

(3) Mengenakan pakaian berwarna putih, karena sesungguhnya pakaian berwarna putih adalah pakaian yang paling utama.

(4) Memotong kuku dan rambut yang panjang. Maka disunnahkan mencabut bulu ketiak, memotong kumis dan mencukur bulu kemaluan. Dan memakai minyak wangi yang paling harum yang ia temukan.

Dan disunnahkan diam seraya mendengarkan saat khutbah. Kecuali untuk memperingatkan orang buta yang akan jatuh ke sumur, dan memperingatkan orang yang hendak disengat oleh kalajengking semisal.

Baca juga: Tata Cara Menguburkan Jenazah dalam Islam

Sholat Sunnah Saat Khutbah

Barang siapa masuk masjid saat imam melaksanakan khutbah, maka disunnahkan baginya untuk melaksanakan sholat sunnah tahiyyatul masjid dua rekaat kemudian duduk. Sedangkan orang yang sudah hadir sejak tadi, maka tidak disunnahkan melaksanakan dua rekaat setelah imam duduk di atas mimbar, baik sholat sunnah Jum’at atau bukan. Dari pemahaman ini tidak nampak jelas bahwa sesungguhnya sholat tersebut hukumnya haram ataukah makruh. Akan tetapi di dalam kitab Syarh Al-Muhadzdzab,mImam Al-Nawawi secara tegas memberi hukum haram, dan beliau mengutip ijma atas hal tersebut dari Imam Al-Mawardi.

Oleh: Abu ‘Abdillah Ibnu Zubaidy Al-Bathy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *