Pengertian Sifat Wajib Allah ke 7: Qudrah (Maha Kuasa)

Kajian Islam  (Santri Milenial)Pengertian Sifat Wajib Allah ke 7: Qudrah (Maha Kuasa)

Wajib bagi Allah ta’ala sifat Qudrah (Maha Kuasa) terhadap segala sesuatu. Maksud dari “sesuatu” di sini adalah sesuatu yang jaiz ‘aqli (sesuatu yang secara akal mungkin ada dan ketiadannya).

Oleh karena itu sesuatu yang mustahil ‘aqli (sesuatu yang tidak mungkin terjadi secara akal sehat) terkecualikan dari pengertian jaiz ‘aqli, karena ia tidak menerima keberadaan (tidak mungkin terjadi), maka tidak layak apabila mustahil ‘aqli menjadi tempat berhubungnya sifat Qudrah.

Berbeda dengan lbnu Hazm yang mengatakan dalam kitabnya Al-Muhalla : ”Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla adalah Dzat yang maha Kuasa untuk menjadikan seorang anak karena jika tidak mampu menjadikannya, berarti Dia lemah”. Perkataan Ibnu Hazm ini tidak benar karena menjadikan seorang anak adalah muhal bagi Allah (mustahil ‘aqli) dan sesuatu yang muhal secara akal tidak termasuk cakupan sifat Qudrah Allah.

Baca juga: Pengertian Sifat Wajib Allah ke 4 dan 5: Al-Qiyam bi Nafsih dan Al-Mukhalafah Lil Hawaditsi

Tidak adanya kemampuan untuk melakukan sesuatu terkadang karena keterbatasan kemampuan tersebut. Sebagaimana hal itu terletak pada makhluk. Dan terkadang karena sesuatu itu tidak mungkin terjadi karena termasuk sesuatu yang mustahil ‘aqli. Dan juga terkadang karena sesuatu itu tidak menerima ketiadaan karena termasuk sesuatu yang wajib ‘aqli (pasti adanya secara akal sehat).

Sifat lemah karena keterbatasan atau ketidakmampuan itulah yang dinafikan dari sifat Qudrah Allah. Bukan berarti tidak adanya hubungan sifat Qudrah dengan wajib ‘aqli dan mustahil aqli dikatakan lemah.

Oleh karena itu tidak boleh dikatakan : “Sesungguhnya Allah maha kuasa atas hal itu (mustahil aqli) dan tidak lemah”. Sebagian ulama mengatakan : “Sebagaimana tidak dikatakan mengenai sebuah batu itu berilmu dan bodoh”.

Demikian juga dijawab atas perkataan orang-orang kafir : “Apakah Allah maha Kuasa untuk menciptakan sesuatu yang semisal-Nya?”, karena pertanyaan ini sama halnya menjadikan sesuatu yang muhal ‘aqli menjadi sesuatu yang jaiz ‘aqli. Dan hal itu tidak mungkin terjadi.

Keterangannya adalah bahwa Allah itu azali seandainya Dia mempunyai serupa, maka serupa itu juga azali dan sesuatu yang azali itu tidak diciptakan karena sesuatu yang azali itu wujud (ada), maka bagaimana mungkin sesuatu yang sudah ada itu diciptakan kembali?

Baca juga: Pengertian Sifat Wajib Allah ke 6: Wahdaniyah (Tidak Ada Sekutu Bagi Allah)

Ketidak mungkinan terjadinya sesuatu yang mustahil ‘aqli itu jelas, sedangkan sesuatu yang wajib ‘aqli tidak menerima keberadaan yang baru hal itu karena kaberadaannya azali. Terdapat perbedaan antara wujud (ada) dan kemungkinan adanya. Wujud itu meliputi wujud pada azal dan wujud yang baru. Adapun kemungkinan adanya hanya terletak pada wujud yang baru.

Sesuatu yang wajib ‘aqli adalah Allah dan sifat-sifat-Nya, wujudnya Allah dan sifat-sifat-Nya adalah azali. Oleh karena itu tidak boleh dikatakan bahwasanya Allah dan sifat-sifat-Nya adalah sesuatu yang mungkin terjadi, karena wujud keduanya adalah azali.

Pernyataan kita bahwasanya sesuatu yang wajib ‘aqli tidak menerima keberadaan yang baru adalah benar. Tetapi bagi para pemula dalam mempelajari ilmu akidah, maka pemahaman mereka masih terbatas sehingga perlu dijelaskan dengan semestinya. Sedangkan bagi orang yang telah menekuni ilmu akidah dengan baik, maka maksudnya sudah sangat jelas.

Oleh : Tim Kajian Syahamah

One thought on “Pengertian Sifat Wajib Allah ke 7: Qudrah (Maha Kuasa)

  • July 1, 2018 at 6:04 am
    Permalink

    Terimakasih sudah sharing!
    Maaf saya kurang mengerti mengenai pernyataan kita bahwasanya sesuatu yang wajib ‘aqli tidak menerima keberadaan yang baru adalah benar apa ya?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *