Pengertian Sifat Wajib Allah ke 6: Wahdaniyah (Tidak Ada Sekutu Bagi Allah)

Kajian Islam (Santri Milenial). Pengertian Sifat Wajib Allah ke 6: Wahdaniyah (Tidak Ada Sekutu Bagi Allah)

Makna sifat Wahdaniyah adalah bahwa Allah ta’ala bukan dzat yang tersusun dari beberapa bagian, tidak ada satupun dzat yang menyerupai Dzat-Nya, tidak ada selain Allah yang mempunyai sifat seperti sifat-Nya dan tidak ada yang mempunyai perbuatan serupa dengan perbuatan-Nya.

Maksud sifat Wahdaniyah bukan berarti satu dengan pengertian bilangan. Karena satu dengan pengertian bilangan, mempunyai bagian setengah dan bagian-bagian lainnya. Akan tetapi yang dimaksud dengan Wahdaniyyah adalah tidak ada sekutu bagi Allah ta’ala. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Imam Abu Hanifah rhodiyallahu ‘anhu dalam kitabnya Al-Fiqhu Al-Akbar:

والله واحد لا من طريق العدد ولكن من طريق أنه لا شريك له

Maknanya : “Dan Allah adalah Dzat yang maha Esa bukan dari segi bilangan, melainkan Allah adalah Dzat yang Esa dari segi bahwa tidak ada satupun sekutu bagi-Nya”.

Dalil sifat Wahdaniyah adalah bahwa Dzat yang menciptakan pasti adalah maha Hidup, maha Kuasa, maha Mengetahui, maha Berkehendak dan mempunyai ikhtiyar (pilihan) tidak ada satupun yang memaksa-Nya. Apabila telah pasti bahwa Dzat yang menciptakan mempunyai sifat-sifat yang telah kami sebutkan, maka kita katakan :

Seandainya alam semesta ini mempunyai dua pencipta, maka masing-masing dari keduanya harus mempunyai sifat hidup, kuasa, mengetahui, berkehendak dan mempunyai ikhtiyar (pilihan). Dan dua pencipta yang mempunyai ikhtiyar, boleh saja berbeda dalam ikhtiyar karena masing-masing dari keduanya tidak dipaksa untuk menyamai yang lain dalam ikhtiyarnya. Seandainya tidak demikian, maka bisa saja keduanya dipaksa dan sesuatu yang dipaksa bukan Tuhan.

Baca Juga: Pengertian Sifat Wajib Allah ke 4 dan 5: Al-Qiyam bi Nafsih dan Al-Mukhalafah Lil Hawaditsi

Apabila ini benar, maka jika salah satu dari keduanya berbeda keinginan dengan yang lainnya pada suatu hal, seperti apabila salah satu dari mereka menginginkan hidupnya seseorang dan yang lainnya menginginkan matinya orang tersebut, maka tidak bisa terlepas dari terlaksananya keinginan dari keduanya atau tidak terlaksana keinginan dari keduanya atau terlaksana keinginan dari salah satu dari keduannya dan tidak terlaksana keinginan dari yang lain.

Dan muhal (tidak mungkin) keinginan dari keduanya bisa terjadi karena di sana ada kontradiksi (pertentangan) yaitu apabila salah satu dari keduanya menginginkan hidupnya seseorang dan yang lainnya menginginkan kematian orang tersebut, maka mustahil (tidak mungkin) orang tersebut dalam keadaan hidup dan mati dalam satu waktu.

Apabila keinginan dari keduanya sama-sama tidak terlaksana maka berarti keduanya lemah dan sesuatu yang lemah bukan Tuhan. Apabila terlaksana keinginan dari salah satu keduanya dan tidak terlaksana keinginan yang lainnya, maka yang tidak terlaksana keinginannya adalah lemah. Dan sesuatu yang lemah itu bukan Tuhan dan tidak juga Qadim. Dalil ini menurut ulama’-ulama’ tauhid dikenal dengan Dilalah Al-Tamanu’. Allah ta’ala berfirman :

(لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا)

Maknanya : “Sekiranya langit dan bumi mempunyai tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa” (Q.S. Al-Anbiya’ : 22)

Sumber: Tim Kajian Syahamah (Syabab Ahlussunnah Waljamaah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *