Mengapa Harus Fathul Qorib ? Ini Jawabannya

Kajian Islam (Santri Milenial). Mengapa Harus Fathul Qorib ? Ini Jawabannya

Pertama mengenal kitab ini kira-kira penulis masih duduk di sekolah dasar, setelah menyelesaikan binnadhor Al-Quran, penulis dikenalkan kitab sama bapak, sebuah kitab yang tebalnya tiga jilid, kitabnya ditulis dengan menggunakan bahasa arab gandul disertai terjemahan dengan menggunakan bahasa jawa disertai tulisanya yang miring-miring, masih segar diingatan penulis, membacanya sambil memiring-miringkan kitab, waktu itu penulis belum begitu mengenal nama kitab dan isinya, yang jelas waktu itu penulis hanya disuruh membaca kitab tersebut, walaupun waktu itu sempat membacanya sampai selesai tetapi penulis tidak memahami sama sekali isi dari kitab tersebut. Maklumlah ketika kecil yang penting belajar walaupun tidak memahami apa yang dikaji.

Selesai menyelesaikan pendidikan menengah atas, penulis diberi kesempatan untuk melanjutkan belajar disebuah madrasah, disitulah awal pertama penulis menyadari bahwa kitab yang waktu kecil dibaca adalah kitab fathul qorib anggitan Syekh Muhammad Bin Qosim Alghozi. Sebuah kitab kecil yang sangat terkenal dikalangan pesantren di indonesia, lafalnya sangat ringkas dan mempunyai tafsir yang sangat luas, dan tentunya kitab ini sangat berbeda dengan yang penulis ketahui waktu kecil yaitu 3 jilid kitab besar. Alhamdulillah penulis pernah bermulazamah belajar kitab ini kepada lima ustad sekaligus, tapi ketika membaca kitab ini penulis benar-benar merasa takjub walaupun lafalnya singkat tapi pemaknaanya bisa sangat mendalam, hal ini seperti yang ditulis pengarang dalam bab pendahuluanya kita ini merupakan kitab yang paling ringkas dan membuang pembahasan-pembahasan yang tidak perlu.

Setelah penulis mengkaji kitab ini, penulis baru menyadari bahwa kitab ini merupakan komentar (syarah) dari kitab Taqrib anggitan Abu Suja’, karena kitab anggitan Abu Suja’ ini di masyarakat terkenal dengan dua sebutan, yaitu Taqrib dan Ghoyatul Ikhtishor maka syekh muhammad ibnu qosim menamai kitab komentarnya ini dengan dua sebutan juga, pertama Fathul Qorib Mujib yang merupakan komentar dari kitab Taqrib, dan Qoulul Muhktar yang merupakan komentar dari kitab Ghoyatul Ikhtishor. Menurut grand syaik al-azhar ke 18, Ibrahim Albajuri yang mengomentari kitab ini, bahwa asal nama dari fathul qorib yaitu fathullah alqoribul mujib, sebuah susunan idhofah yang mudhof ilahnya yaitu kata allah dibuang kemudian diganti dengan dua sifat allah yaitu qorib dan mujib, jadi kalau dimaknai secara harfiah adalah terbukanya hati kepada allah yang maha dekat dan maha mengijabahi. Alasan nama Allahnya tidak disebutkan akan tetapi yang disebutkan hanya sifatnya saja, yaitu qorib dan mujib adalah untuk penggagungan nama Allah yang maha besar, hal ini seperti yang diterangkan dalam Al-Quran, Allah SWT selalu memuliyakan Nabi Muhammad dengan tidak memanggil namanya secara langsung akan tetapi melalui gelarnya, seperti ya rosul, ya nabi, ya ayuhal muzammil, ya ayyuhal mudasir berbeda ketika memanggil nabi yang yang lain yaitu langsung dengan namanya seperti ya musa, ya ibrohim. Oleh karenanya ketika berdoa kita sangat dianjurkan menyebut nama Allah dengan menggunakan nama-namanya yang baik sesuai yang terdapat  dalam asmaul husna, seperi ya rahman, ya malik, ya fattah.

Ibrahim Albajuri juga mengatakan cara untuk mendekat kepada Allah yaitu dengan ilmu, makanya sangat dianjurkan untuk belajar dan cara agar Allah mengijabahi adalah dengan kita berdoa, sangatlah aneh Allah akan mengijabahi segala permintaan kalau kita sebagai hambanya tidak pernah berdoa, jadi bisa dikatakan kitab Fathul Qorib ini sebagai wasilah terbukanya hati kita kepada Allah dan Allah mengijabahi segala doa. Sedangkan Imam Nawawi Albantani, cendekiawan muslim terkemuka asal Banten mengatakan bahwa kitab fathul qorib ini sebagai Quutul Habibil Ghorib (judul kitab beliau yang mengomentari kitab fathul qorib) yang berarti bekal kekasih yang melakukan perjalanan menuju Allah. iya, memang kitab fathul qorib memang bekal yang ampuh untuk menuju Allah, hal ini bisa kita lihat pada kisah Pangeran Diponegoro ketika melawan belanda, yang setelah diteliti bahwa dikamar pribadi beliau, terdapat tiga benda pusaka yaitu Al-Quran yang menunjukan bahwa ia sering membaca Al-Quran, tasbih yang menunjukan ia sering berdzikir, dan kitab fathul qorib yang menunjukan ia belajar fiqh madhab syafi’i dan manjadikan kitab ini sebagai pedoman dalam memahami agama, dan karena kecakapan beliau dalam memahami agama islam beliau menjadi  pemimpin yang sangat disegani dan ditakuti lawan, bahkan belanda menghadapi Pangeran Diponegoro sangat kewalahan.

Ibrahim Albajuri juga menjelaskan kenapa Muhamad Bin Qosim menamai kitab karanganya dengan Qoulul Mukhtar, bahwasanya kitab yang dikarang ini menggunakan kata-kata yang telah dipilih oleh para ulama, sehingga walaupun lafalnya sedikit tapi maknanya sangat luas. Sehingga barang siapa yang hatinya ingin kasyaf atau futuh kepada Allah dan doanya diijabahi oleh Allah (fathul qoribul mujib) hendaknya selalu bertutur kata yang baik (Qoulul Muhktar).

Diceritakan bahwasanya ketika usaha perundingan untuk merebut kembali irian barat yang di kuasai belanda selalu gagal, sukarno pergi menemuhi salah satu pendiri NU yaitu KH Wahab Hasbullah, beliau bertanya bagaimana hukumnya orang belanda yang masih bercokol di irian barat, Kiai Wahab menjawab dengan tegas “hukumnya sama dengan orang yang ghosob, apa artinya ghosob kyai..? ghosob adalah istihaqoqu malil ghoir bighori idhnihi (menguasai hak milik orang lain tanpa izin), lalu bagaimana untuk menghadapi orang yang ghosob..? adakanlah perdamaian, begitu ya kyai, menurut kyai apakah perundingan damai dengan belanda akan berhasil..? tidak, lalu kenapa kita tidak potong kompas saja kyai, desak sukarno sambil memancing kyai wahab, dalam syariat agama islam tidak diperkenankan potong kompas, jawab kyai wahab dengan tegas. Mendapatkan saran ini kemudian sukarno menyuruh Subandrio mengadakan perundingan yang terakhir kali dengan belanda untuk menyelesaikan konflik Irian Barat, akhirnya perundingan gagal, dan sukarno akhirnya menemui kyai wahab kembali, kyai apa solusi selanjutnya untuk menyelesaikan irian barat.? Akhodahu qohron (ambil/ kuasai secara paksa), apa rujukan kyai untuk memutuskan masalah ini..? saya mengambil literatur dari kitab Fathul Qorib dan komentarnya kitab Hasyiah Bajuri, kemudian atas saran ini sukarno membentuk barisan trikora.

Alhasil Ditangan Pangeran Diponegoro dan KH wahab kitab Fathul Qorib  bisa menjadi bekal untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sedang dihadapinya dan sebagai bekal yang ampuh untuk kembali kepada tuhan yang maha dekat, lalu kenapa ditangan penulis, mengapa kitab ini masih saja sulit dipahami,. oh ada apa dengamu fathul qorib…? semoga dengan belajar kitab fathul qorib allah membukakan hati penulis untuk bisa memahami dan mengamalkan isinya seperti mereka, Pangeran Diponegoro dan Kh Wahab Hasbullah Amin..!

Oleh: ibnu badri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *