Dalil-Dalil Tentang Puasa di Bulan Rajab

Kajian Islam (Santri Milenial). Dalil-Dalil Tentang Puasa di Bulan Rajab

Dalil tentang Puasa Rajab secara Umum

Himbauan secara umum untuk memperbanyak puasa kecuali di hari-hari yang diharamkan yang 5 (lima). Bulan Rajab adalah bukan termasuk hari-hari yang diharamkan. Juga anjuran-anjuran memperbanyak di hari-hari seperti puasa hari Senin, puasa hari Kamis, puasa hari-hari putih, puasa Daud dan lain-lain yang itu semua bisa dilakukan dan tetap dianjurkan walaupun di bulan Rajab. Berikut ini adalah riwayat-riwayat tentang keutamaan puasa.

a. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari No. 5472:

“Semua amal anak Adam )pahalanya( untuknya kecuali puasa maka aku langsung yang membalasnya.”

b. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim No. 1942:

“Bau mulutnya orang yang berpuasa itu lebih wangi dari misik menurut Allah kelak di hari kiamat”
Yang dimaksud Allah akan membalasnya sendiri adalah pahala puasa tak terbatas hitungan, tidak seperti pahala ibadah shalat jamaah dengan 27 derajat. Atau ibadah lain yang satu kebaikan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan.

c.  Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari No. 1063 dan Imam Muslim No. 1969 :

“Sesungguhnya paling utamanya puasa adalah puasa saudaraku Nabi Daud, beliau sehari puasa dan sehari buka.”

Baca juga : Larangan Bagi Wanita Haid Dan Nifas dalam Agama Islam

Dalil-Dalil Puasa Rajab secara Khusus

a. Hadits yang diriwayatkan Imam Muslim

“Sesungguhnya Sayyidina Ustman Ibn Hakim Al-Anshari, berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rajab dan ketika itu kami memang di bulan Rajab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi Muhammad SAW berpuasa )di bulan Rajab( hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rajab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rajab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rajab.”

Dari riwayat tersebut di atas, bisa dipahami bahwa Nabi SAW pernah berpuasa di bulan Rajab dengan utuh, dan Nabi pun pernah tidak berpuasa dengan utuh. Artinya, di saat Nabi SAW meninggalkan puasa di bulan Rajab itu menunjukan bahwa puasa di bulan Rajab bukanlah sesuatu yang wajib. Begitulah yang dipahami para ulama tentang amalan Nabi SAW. Jika Nabi melakukan satu amalan kemudian Nabi meninggalkannya itu menunjukan amalan itu bukan sesuatu yang wajib, dan hukum mengamalkannya adalah sunnah.

b. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah

“Dari Mujibah Al-Bahiliah dari ayahnya atau pamannya, sesungguhnya ia )ayah atau paman( datang kepada Rasulullah SAW kemudian berpisah dan kemudian datang lagi kepada Rasulullah SAW setelah setahun dalam keadaan tubuh yang berubah )kurus(, dia berkata: Ya Rasulullah SAW, apakah engkau tidak mengenalku?” Rasulullah SAW menjawab: “Siapa Engkau?” Dia pun berkata: “Aku Al-Bahili yang pernah menemuimu setahun yang lalu.” Rasulullah SAW bertanya: “Apa yang membuatmu berubah sedangkan dulu keadaanmu baik-baik saja (segar bugar).” Ia menjawab: “Aku tidak makan kecuali pada malam hari )yakni berpuasa( semenjak berpisah denganmu, maka Rasulullah SAW bersabda: “Mengapa engkau menyiksa dirimu, berpuasalah di bulan sabar dan sehari di setiap bulan.” Lalu ia berkata: “Tambah lagi (ya Rasulallah) sesungguhnya aku masih kuat.” Rasulullah SAW berkata: “Berpuasalah 2 hari (setiap bulan).” Dia pun berkata: “Tambah lagi, ya Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW berkata: “Berpuasalah 3 hari (setiap bulan).” Ia pun berkata: “Tambah lagi, (Ya Rasulullah SAW). Rasulullah SAW bersabda: “Jika engkau menghendaki berpuasalah engkau di bulan-bulan haram )Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram( dan jika engkau menghendaki, maka tinggalkanlah.” Beliau mengatakan hal itu tiga kali sambil menggenggam 3 jarinya kemudian membukanya.” Imam Nawawi menjelaskan hadits tersebut.

Baca juga: Tahlil Hari Ke 3, 7 25, 40 Setahun & 1000, Bukan Bid’ah, Dipraktekkan Oleh Umar dan Ulama Salaf

Sabda Rasulullah SAW:  “Berpuasalah di bulan haram kemudian tinggalkanlah”. Sesungguhnya Nabi SAW memerintahkan berbuka kepada
orang tersebut karena dipandang puasa terus-menerus akan memberatkannya dan menjadikan fisiknya berubah. Adapun bagi orang yang tidak merasa berat untuk melakukan puasa, maka berpuasa di bulan Rajab seutuhnya adalah sebuah keutamaan (Majmu’ Syarh Muhadzdzab Juz 6 hal. 439).

c. Hadits riwayat Usamah bin Zaid

“Aku berkata kepada Rasulullah SAW, Ya Rasulullah SAW, aku tidak pernah melihatmu berpuasa sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban.” Rasulullah SAW menjawab: “Bulan Sya’ban itu adalah bulan yang dilalaikan di antara bulan Rajab dan Ramadhan, dan bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnyaamal-amal kepada Allah SWT dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaaan aku berpuasa”. HR. Imam An-Nasa’I Juz 4 Hal. 201.

Baca juga: Dalil Bolehnya Berdzikir dengan Tasbih

Imam Syaukani menjelaskan:  Secara tersurat yang bisa dipahami dari hadits yang diriwayatkan oleh Usamah, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia di antara Rajab dan Ramadhan.” Ini menunjukkan bahwa puasa Rajab adalah sunnah, sebab bisa difahami dengan jelas dari sabda Nabi SAW bahwa mereka lalai dari mengagungkan Sya’ban dengan berpuasa karena mereka sibuk mengagungkan ramadhan dan Rajab dengan berpuasa.” (Nailul Author Juz 4 hal 291)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *