Bagaimana Hukum Wanita Haid dan Nifas Berwudhu?

Kajian Islam (Santri Milenial)- Haid dan nifas merupakan darah tabiat yang diberikan oleh Allah kepada wanita. Haid secara fiqih yaitu darah yang keluar dari rahim wanita melalui kemaluannya setelah berusia 9 tahun hijriyyah (boleh kurang 16 hari) dalam keadaan sehat. Sedangkan nifas merupakan darah yang keluar setelah wanita melahirkan. Penjelasan mengenai hukum haid dan nifas ini semoga dapat ditulis dalam tulisan yang lain mengingat pembahasannya yang cukup rumit.

Selain manusia, hewan juga mengalami haid seperti kelelawar. Ada pula wanita yang tidak mengalami haid yaitu Fatimah Azzahro, putri Nabi SAW.

Haid adalah masa berkurangnya tingkat spiritual seorang wanita. Bagaimana tidak, mereka tidak melakukan ibadah-ibadah inti dalam islam, seperti sholat dan puasa. Sehingga hal ini harus diimbangi dengan ibadah-ibadah yang lain seperti berdzikir, dan bersholawat.

Adapula yang berinisiatif untuk melakukan wudhu saat sedang berlangsung haid. Ini yang menjadi problem, bolehkah wanita haid dan nifas berwudhu?

Baca juga: Larangan Bagi Wanita Haid Dan Nifas dalam Agama Islam

Ada dua kemungkinan untuk menjawab pertanyaan ini :
a. Saat haid masih berlangsung,

وَأَمَّا أَصْحَابنَا فَإِنَّهُمْ مُتَّفِقُوْنَ عَلَى أَنَّهُ لَا يُسْتَحَبُّ الْوُضُوءُ لِلْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ ؛ لِأَنَّ الْوُضُوْء لَا يُؤَثِّرُ فِي حَدَثِهِمَا ، فَإِنْ كَانَتْ الْحَائِضُ قَدْ اِنْقَطَعَتْ حَيْضَتُهَا صَارَتْ كَالْجُنُبِ . وَاللهُ أَعْلَمُ

“Adapun ashab kita, mereka bersepakat bahwa sesungguhnya tidak disunnahkan beruwudhu bagi wanita haid dan nifas. Karena wudhunya tidak berefek (mensucikan) terhadap hadastnya. (Berbeda) ketika haidnya sudah berhenti, maka hukumnya seperti orang yang junub (WA). (Syarhunnawawi ‘Alaa Shahihi Muslim juz III halaman 218).

Bahkan dalam kitab Nihayatul Muhtaj disebutkan :

وَمِمَّا يَحْرُمُ عَلَيْهَا الطَّهَارَةُ عَنْ الْحَدَثِ بِقَصْدِ التَّعَبُّدِ مَعَ عِلْمِهَا بِالْحُرْمَةِ لِتَلَاعُبِهَا ، فَإِنْ كَانَ الْمَقْصُوْدُ مِنْهَا النَّظَافَةَ كَأَغْسَالِ الْحَجِّ لَمْ يُمْتَنَعْ.

“Sebagian dari perkara yang diharamkan yaitu wanita haid bersuci dari hadast dengan tujuan beribadah sedangkan dia tahu akan keharamannya, hal itu karena tala’ub (mempermainkan ibadah). Namun, jika niatnya untuk kebersihan seperti mandi haji, maka tidak dilarang.”

Baca juga: Tips Memilih Istri ala KH Maimun Zubair

b. Saat haid sudah berhenti.
Jika haid sudah berhenti mencermati pendapat Imam Nawawi dalam point a, maka hukumnya wanita haid berwudhu setelah berhentinya darah seperti orang yang berjunub.

وَيُنْدَبُ لِلْجُنُبِ رَجُلًا كَانَ أَوْ امْرَأَةً وَلِلْحَائِضِ بَعْدَ انْقِطَاعِ حَيْضِهَا الْوُضُوْءُ لِنَوْمٍ أَوْ أَكْلٍ أَوْ شَرْبٍ أَوْ جِمَاعٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ تَقْلِيْلًا لِلْحَدَثِ.

“Disunnahkan berwudhu bagi lelaki yang berjunub atau wanita haid setelah berhenti haidnya untuk tujuan akan tidur, minum, bersetubuh, atau semisalnya, hal ini disebut taqlil lil hadast (mengecilkan hadast)”. Hasyiyah Jamal ‘alaa Syarhil Manhaj juz I halaman 166

Wallahu A’lam Bishshob
Oleh : @alfarisi_hamzah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *